Prev Next
Image
Warta Sepekan

Jagalah Kasihmu Yang Mula-mula

11 Februari 2018

Salah satu teguran yang paling keras Tuhan Yesus berikan kepada jemaat di Efesus (Why 2:1-7). Awalnya Tuhan Yesus sangat memuji segala pekerjaan/ pelayanan yang dilakukan jemaat karena kesabaran mereka dalam menanggung penderitaan oleh karena nama-Nya, dan mereka tidak mengenal lelah. Namun akhirnya Yesus mencela mereka karena mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula kepada Tuhan (Why 2:4). Mengapa Yesus sampai mencela mereka? Apakah kasih mula-mula menjadi sangat penting bagi Yesus, bahkan melebihi segala pekerjaan/pelayanan yang telah jemaat lakukan dengan tidak mengenal lelah?

Kasih menjadi sangat penting bagi Tuhan Yesus karena itu berbicara mengenai diri Tuhan Yesus. Ketika seseorang dikatakan “meninggalkan kasih mula-mula”, itu bukan hanya sekedar perasaan emosional belaka, namun memiliki pengertian yang dalam bahwa orang tersebut telah menjauh dari Tuhan Yesus sendiri.

Highlight

"Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." 1 Korintus 13:2

““Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” ” — 1 Yoh 4:8

Kasih karunia justru harus kita hargai dengan cara hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Aktifitas yang sangat tinggi dalam melakukan pekerjaan/ pelayanan kepada Tuhan dan jemaat-Nya harus dilandaskan pada kasih kepada Kristus; bukan karena identitas Gereja kita, bukan karena hal tersebut memberikan perasaan enak bagi kita, bukan juga untuk mencari pujian dan penghargaan dari orang lain. Motivasi utama kita dalam bekerja dan melayani adalah karena Tuhan Yesus mengasihi kita dan kita mengasihi Tuhan Yesus. Saat kita kehilangan fokus dan motivasi dasar ini maka lambat laun pasti kita akan menjauh dari Dia dan akhirnya berfokus pada diri sendiri.

Dalam kehidupan jemaat Efesus, Yesus menunjukkan otoritas-Nya sebagai spirit-giver dan gift-giver (Why 2:1). Dialah yang memperlengkapi jemaat dengan kekuatan dan karunia roh yang dibutuhkan untuk berkarya di atas muka bumi ini.

Namun itu semua tidak ada artinya jika jemaat melakukannya tanpa didasari kasih kepada Tuhan. Pesan yang sama juga telah didengungkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 13:1-4 bahwa tanpa kasih, maka segala pekerjaan/pelayanan yang kita klaim untuk Tuhan dan jemaat-Nya; serta semua karunia yang kita terima daripada-Nya menjadi hal yang tidak ada gunanya. Tuhan Yesus mengingatkan kita, agar jangan sampai lupa bahwa alasan utama kita melayani-Nya yaitu karena Ia sudah terlebih dahulu mengasihi kita

.

Kasih menjadi penting bagi Tuhan karena itu juga berbicara tentang bagaimana kita hidup dengan sesama anak-anak-Nya yang lain. Kehidupan anak-anak Tuhan haruslah di dasarkan kasih-Nya kepada kita. Kasih yang sama yang kita terima dari Tuhan, kini dipraktekkan kepada sesama orang percaya. Meninggalkan kasih mula-mula adalah hal yang buruk bagi setiap orang percaya oleh karena hubungan yang terjadi adalah hubungan semu, yang selalu mengharapkan pamrih. Ini adalah hal yang sangat tidak disukai oleh Tuhan.

Rasul Yohanes dalam 1 Yoh 4:19-21 berkata, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.“ Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya.” Ayat ini berbicara dengan sangat gamblang; bahwa kita tidak dapat meng-klaim diri kita mengasihi Allah tetapi membenci saudara seiman dan demikian juga sebaliknya.

Bagaimana cara agar kita tetap pada kasih yang mula-mula, bahkan terus bertambah dalam kasihnya kepada Tuhan dan sesama kita?

1. Bertobat Ujilah segala motivasi pekerjaan/ pelayanan yang kita lakukan saat ini untuk siapa dan untuk apa (Why 2:5).

2. Hidup Dalam Kepenuhan Roh Kudus Kita tidak bisa hidup tanpa Roh Kudus karena Dialah yang membimbing kita ke dalam pertobatan, Dia yang mengaruniakan kemampuan kepada kita untuk melayani-Nya dan jemaat-Nya, Dia juga yang membuat roh kita menyala-nyala dan berbicara kepada kita dari waktu ke waktu (Why 2:1,5,7).

3. Jangan Sepelekan Kasih Karunia Tuhan Salah satu pengajaran Nikolaus adalah menggampangkan kasih karunia Tuhan yaitu dengan beranggapan apapun yang kita lakukan dalam hidup tidak akan berpengaruh kepada hubungan kita dengan Tuhan (Why 2:6). Kasih karunia justru harus kita hargai dengan cara hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.

4. Jadilah Pemenang Tuhan Yesus sudah menyelamatkan kita dan menjadikan kita lebih dari pemenang. Jika kita menjalankan hidup kita dengan mengandalkan kekuatan kita sendiri, maka kita akan gagal menjadi pemenang (Why 2:7).

5. Ingat Selalu Apa Yang Telah Tuhan Berikan Dan Lakukan Kepada Kita Kita yang seharusnya binasa selama-lamanya, oleh karena kasih karunia dan pengampunan-Nya, sekarang kita akan dinantikan untuk hidup kekal bersama-Nya selama-lamanya (Why 2:5).

Hiduplah senantiasa dengan tidak melupakan kasih mula-mula kita kepada Tuhan dan teruslah hidup di dalam-Nya sampai Tuhan Yesus datang untuk kali yang kedua. Amin (CS)