Fashion

Generasi Z

 

Generasi milenial atau Generasi Z tengah banyak diperbincangkan. Terdapat kesulitan-kesulitan dalam memahami generasi ini. Generasi Z lahir pada tahun 1995-2009. Mereka hidup di era yang segalanya sudah serba internet, mengakibatkan ketergantungan terhadap gawai yang cukup tinggi.

 

Generasi milenial atau Generasi Z tengah banyak diperbincangkan. Terdapat kesulitan-kesulitan dalam memahami generasi ini. Generasi Z lahir pada tahun 1995-2009. Mereka hidup di era yang segalanya sudah serba internet, mengakibatkan ketergantungan terhadap gawai yang cukup tinggi.
Generasi ini sering juga disebut dengan I-Generation, generasi net atau generasi internet. Apapun yang dilakukan lebih banyak berkaitan dengan dunia maya. Sejak kecil sudah akrab dengan teknologi dan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka. Generasi ini cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal.
Generasi Z telah terbiasa hidup dengan google, menonton dengan You Tube dan permainan game on-line. Secara fisik mereka dapat “dikunci”, namun secara mental tidak dapat dikungkung, jauh berbeda dengan generasi sebelum-sebelumnya yang cenderung mendengar dan patuh-patuh saja.

Jadi mari kita coba mengerti, bagaimana sebenarnya karakter generasi Z, sebagai berikut:
1. Mereka adalah orang-orang yang efisien.
Jika kita ingin memberikan tugas, maka bagi Generasi Z lebih akan lebih baik jika kita memberikan contoh secara langsung. Karena, bagi mereka itu akan lebih menghemat waktu.
Generasi Z juga multitasking, mereka sanggup melakukan beberapa hal secara bersamaan. Misalnya, sedang berkumpul bersama keluarga anak anda sedang bermain game, tiba-tiba orang tua menyuruh si anak menyapa salah satu orang yang dituakan (Opa atau Oma) dalam keluarga. Anak akan menyapa namun, tanpa menatap Opa atau Oma. Tentu orang tua akan mengatakan itu tidak sopan dan menganggap bahwa hal tersebut bukanlah sapaan yang serius. Padahal 'bagi' mereka hal tersebut telah dilakukan dengan serius.

2. Kustomisasi
Mereka akan lebih kritis dalam menyampaikan pendapat. Mereka akan banyak bertanya “Mengapa”untuk semua hal yang dilarang. Tak sungkan berdebat karena mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

3. Berproses dengan gaya mereka sendiri
Mereka bukan generasi instan, tapi lebih kepada serba cepat. Begitu banyaknya peluang dan pilihan yang bisa milenial ambil, ditambah dengan kemajuan teknologi informasi, milenial harus pandai memilah dan memilih konten yang diperlukan, tidak mudah menyerah, berinovasi, dan produktif. Agar hal tersebut mampu terwujud, tentu penting bagi orang tua untuk membimbing mereka.
Jangan mengaplikasikan ajaran nenek kita dulu kepada generasi milenial. Kepribadian yang sudah jauh berbeda membuat nasihat tersebut menjadi tidak efektif. Biarkan mereka berproses akan banyak hal dengan kemampuan mereka sendiri. Jadilah motivator, bukan hakim. Jadilah penunjuk jalan tanpa harus memutuskan jalan yang harus ditempuh dengan sepihak.

4. Fokus pada IKIGAI atau a reason to wake up each morning?
Ikigai berasal dari Bahasa Jepang yang maksudnya adalah memulai segalanya dengan pertanyaan, Mengapa? Generasi milenial tidak menyukai penjelasan yang panjang. Saat mereka mengutarakan pendapat yang menurut Anda kurang baik, ada baiknya Anda menanyakan alsannya, Mengapa? Apakah itu baik menurut ajaran agama kita? Dengarkan, pahami, dan luruskan! Cukup!
Biarkan dia berpikir apakah keputusannya benar-benar baik baginya dan masa depan.

Pola asuh sangat mempengaruhi masa depan generasi ini. Mari coba pahami mereka. Kecanggihan internet tidak bisa dibendung atau dihindari, maka kita perlu belajar untuk kemajuan jaman dan penghuninya.


Ditulis oleh:

Yuliana Friskida, S.Pd