Fashion

Pembangunan Rumah Rohani - 2

(KELUARGA DAN RUMAH TANGGA)

Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus,di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, didalam Roh. (Efesus 2:21-22 )


Shalom,
Melengkapi pesan Tuhan yang telah disampaikan bulan lalu, kita harus memperhatikan kembali keluarga dan rumah tangga kita. Kita harus membangun “home” bukan hanya sekedar “house”.
Mula-mula kita harus memperhatikan Hadirat Tuhan dalam keluarga kita. Dengan menjadikan Tuhan sebagai yang terutama dan pertama dalam prioritas hidup kita maka Tuhan akan hadir dan memenuhi keluarga dengan kasih dan kemuliaan-Nya. Kasih Kristus yang melimpah akan memampukan untuk hidup saling mengasihi satu dengan yang lainnya.
Sekarang kita bahas hal yang berikutnya, yaitu:


1. OTORITAS
Kita harus hidup dalam prinsip Kerajaan Allah bukan dalam prinsip dunia. Prinsip Kerajaan Allah adalah Teokrasi dimana Allah adalah raja yang memiliki otoritas untuk mengatur hidup orang percaya dan kita berkewajiban untuk mentaati Dia. Demikian pula Tuhan menentukan otoritas dalam keluarga. Suami adalah kepala rumah tangga, isteri adalah penolong yang sepadan dan anak-anak adalah berkat Tuhan. Otoritas ini harus dipahami dan dilakukan sebaik-baiknya dalam sebuah keluarga.
Ada otoritas berarti harus ada ketaatan. Suami taat kepada Tuhan, isteri tunduk kepada suami dan anak-anak menghormati orang tua menghasilkan kebahagiaan dan keharmoisan dalam sebuah keluarga. Ketidaktaatan menghasilkan pemberontakan dan pemberontakan menghasilkan perpecahan. Sebaliknya ketika otoritas ditegakkan dalam kebenaran Firman Tuhan dan ketaatan muncul dari ketulusan hati, maka keluarga akan mengalami kelimpahan kasih dan berkat Tuhan.

 

2. CARE
Care berarti perhatian. Keluarga dan rumah tangga membutuhkan perhatian. Pasangan hidup, anak-anak bahkan orang tua membutuhkan perhatian. Perhatian berbicara memberikan waktu bagi mereka. Kesibukan karena pekerjaan atau pelayanan tanpa disadari menyita waktu sehingga perhatian menjadi hilang dan timbul ketidakpuasan. Amsal 10:22 berkata “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Biarlah waktu yang berharga bisa dinikmati dalam kebersamaan yang penuh kasih dan hidup dalam kerukunan yang mendatangkan berkat dan kehidupan dalam kelimpahan seperti janji-Nya dalam Mazmur 133:1-3, “Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! ...Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.”


Perhatikanlah 1 Petrus 2:5, “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”
Setiap anggota keluarga adalah “batu hidup” yang Tuhan tempatkan untuk membangun suatu “rumah rohani” (home) sebagai tempat untuk mempersembahkan persembahan rohani yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan. Ketika hati Tuhan disenangkan maka Tuhan hadir dan memenuhi rumah (house) dengan kelimpahan kasih dan Hadirat-Nya sehingga menjadikan rumah kita menjadi home.


Melalui terang Kristus yang bercahaya dalam keluarga, kita memberikan dampak bagi lingkungan sekeliling. Matius 5:14,16, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi... Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

 

Ketika sebuah rumah (house) dibangun, tukang bangunan menyusun batu yang satu di atas batu lainnya dengan rapih dan menghasilkan bangunan yang kokoh. Kita sebagai batu yang hidup untuk membangun keluarga dan rumah tangga (home) harus juga tersusun rapih. Efesus 2:21-22, berkata “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Batu yang rapih tersusun satu dengan yang lainnya barulah dapat membuat sebuah bangunan berdiri dengan kokoh.


Kita dibangun diatas batu penjuru yaitu Tuhan Yesus (1 Petrus 2:5-7) dengan cara memperhatikan hadirat Tuhan selalu ada dalam keluarga. Menjadi rapih tersusun ketika diikat dalam kasih dan dalam otoritas yang benar. Ikatan kasih yang kuat akan terjadi ketika kita saling memperhatikan (care) satu dengan yang lain. Maka keluarga menjadi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan dan tetap berdiri kokoh sampai selamanya. Semuanya bisa terjadi ketika kita memperhatikan keluarga dan rumah tangga dengan kesungguhan hati dan dalam pertolongan Roh Kudus.

 

Saya berdoa, agar keluarga dan rumah tangga jemaat GBI Sukawarna Rayon 2 menjadi kuat dan berlimpah dengan anugerah dan kebaikan Tuhan. Tuhan Yesus memberkati, Amin.



Oleh: Pdt. David Tjakra Wisaksana